Ternate (ANTARA) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Baabullah Ternate mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem dan banjir di wilayah Maluku Utara (Malut), yang diperkirakan terjadi selama periode 9 hingga 15 Juni 2025.
BMKG minta waspadai cuaca ekstrem dan banjir
Berdasarkan hasil pemantauan terkini, BMKG mendeteksi adanya pola siklonik di wilayah Papua serta pertemuan massa udara di sekitar Maluku Utara. Selain itu, fenomena ini diperkuat oleh aktivitas gelombang Kelvin, yang turut memicu peningkatan pembentukan awan hujan. Akibatnya, kondisi atmosfer yang labil berpotensi menimbulkan cuaca berawan hingga hujan ringan, serta hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat terjadi sepanjang hari, mulai dari pagi hingga dini hari.
Sebagai respons, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, pohon tumbang, hingga gangguan jarak pandang dan angin kencang. Imbauan ini penting untuk mengantisipasi dampak lanjutan dari cuaca ekstrem.
Adapun rincian prakiraan cuaca ekstrem berdasarkan wilayah dan waktu adalah sebagai berikut:
Tanggal 9–10 Juni 2025: Hujan sedang hingga lebat diperkirakan terjadi di sebagian wilayah Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Selatan, Pulau Taliabu, Kepulauan Sula, dan sekitarnya.
Tanggal 11–12 Juni 2025: Hujan serupa kemungkinan melanda Pulau Morotai, Halmahera Utara, Halmahera Barat, Halmahera Timur, Kota Tidore Kepulauan, Kota Ternate, Halmahera Tengah, dan Pulau Taliabu.
Tanggal 13–15 Juni 2025: Curah hujan diperkirakan meluas ke sebagian besar wilayah Malut, mencakup hampir seluruh kabupaten/kota termasuk wilayah sebelumnya ditambah Halmahera Selatan dan Kepulauan Sula.
Berikut ringkasan paragraf tersebut dengan penggunaan kata transisi:
Selain itu, BMKG menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dan sinergi antarinstansi untuk memperkuat kesiapsiagaan. Khususnya, BPBD, Balai Wilayah Sungai Malut, dan Direktorat Lalu Lintas Polda Malut diminta menjaga masyarakat dari aktivitas di zona rawan bencana. Sementara itu, masyarakat diimbau mengenali potensi bahaya di lingkungan masing-masing dan segera melakukan tindakan preventif, seperti menjaga kebersihan dan saluran air. Selanjutnya, BMKG mengingatkan agar hanya mengandalkan informasi resmi dari Stasiun Meteorologi Sultan Baabullah dan tidak menyebarkan kabar yang belum terverifikasi. Pada akhirnya, Kepala BMKG Sakimin menegaskan bahwa kesiapsiagaan adalah kunci menghadapi bencana hidrometeorologi dan mengajak semua pihak untuk tetap waspada demi keselamatan bersama.




